Setahun yang lalu
“Gadis, aku juga sama. Fikiranku jadi tambah kacau. Jadi sepertinya kita pasrah saja pada takdir. Lupakan soal kita. Kita bersaudara saja, toh kalau memang kita jodoh siapa yang bisa menghalangi. Sementara kita dingin
Hari ini tepat 1 tahun saat kita memilih untuk menjalani kehidupan sendiri-sendiri. Setahun yang lalu tak hanya dirimu, aku pun lebih kacau lagi. Sebelum kau mengambil keputusan itu kau sedang dalam posisi yang sangat sulit. Kembali padaku dengan aku yang di jadikan tameng untuk mendapatkan apa yang selama ini menjadi alasanmu untuk tetap hidup berjuang atau kembali kehilangan unutk kesekian kali dan terluka. Sedangkan aku harus memutuskan tetap bersama dengan orang-orang yang kusayangi atau pergi meninggalkan mereka dan luka yang sangat dalam. Dan aku tau aku tak cukup kuat untuk luka-luka yang lainnya, kau sudah memberikan keputusan sebelum aku memutuskan untuk berpisah.
Di tengah kehampaan itu ada kelegaan yang sangat.
Setahun telah berlalu.
Wajah-wajah telah datang dan pergi dalam hidupku tapi aku masih saja mencari sosok dirimu. Sama seperti mu aku tak pernah memaksa mereka. Inilah aku yang pernah terluka oleh seseorang. Pergilah jika kalian ingin pergi.
Setahun telah berlalu.
Waktu yang melupakan waktu juga yang mengingatkan. Ketika bayangmu semakin sulit ku cari, kau telah memulai kehidupan baru lagi. Entah kenapa rasa hampa itu kembali ada tapi kali ini berbeda ada air mata di
…
“Kamu tau. Ketika sedang memanjat, tebing di depan kita itu bagaikan segala sesuatu yang ada di dalam hati dan fikiran. Jadi memanjat membutuhkan kesabaran, teknik, kerja keras dan kekuatan. “ Kata mu
“Aku sangat menyukai mendaki gunung, telusur goa atau sungai dan segala sesuat yang berhubungan dengan alam. Impian ku adalah mengunjungi tempat-tempat indah yang ada di bumi ini bersama team ku. Segala bentuk rintangan akan kami hadapi bersama. Aku pernah mencintai seorang wanita, kepadanya ku berikan segala tapi dia berpaling pada laki-laki lain. Walaupun sekali aku mohon pada mu tolong jangan tinggalkan aku, tetaplah berada di sisiku.” Pinta mu suatu hari, ketika hujan turun saat kita berteduh di bangku kayu di tengah rimbunnya hutan pinus.
Saat itu kau genggam tanganku dan aku meletakkan kepalaku di pundakmu. Fikiranku melayang jauh. Tanganmu, pundakmu, jalan hidupmu mengapa sangat mirip dengan seseorang yang telah pergi meninggalkan ku dan meningglkan kehampaan.
Aku telah memasuki sejuk dan damainya hatimu
Seperti luasnya istana sehingga siapapun bisa masuk dan menikmati semua keindahan yang ada di dalamnya
Karena di
Di luasnya istana hatimu aku harus berbagi ruang dengan duniamu petualangan, segala impian-impian penaklukan, kenangan masa lalu…
Hingga aku ragu, apakah masih ada cukup ruang di istana hatimu untukku yang selama ini mencintai hujan dan wangi tanah yang basah

